Karya: Wiska.L
Tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding menyimpan perasaan mendalam pada seseorang. Pengakuan itu belum sempat terucap, tetapi dia yang aku cintai sudah pergi selamanya. Dia pergi tanpa tahu bahwa aku mencintainya. Sebut saja nama ku Adien, aku berusia 15 tahun . Aku jatuh cinta pada seorang pemuda sebut saja namanya Julian . Dia adalah teman kelasku saat kami masih sekolah di SMP yang sama. Saat kelas tiga, dia pindah ke kota lain. Tetapi takdir mempertemukan kami kembali.
Ada satu hal yang selalu aku simpan dalam hatiku, aku jatuh cinta padanya. Sejak masih duduk di bangku SMP, aku selalu curi-curi pandang ketika jam pelajaran. Kadang aku sengaja untuk melihatnya bermain basket saat pada pelajaran olahraga. Walaupun hanya menatapnya selama 5 menit, rasanya kebahagiaanku penuh sepanjang hari. Remaja selalu malu-malu mengungkapkan isi hatinya, apalagi aku yang memang punya sifat pemalu. Hampir tidak ada sinyal cinta yang aku kirim padanya. Aku tidak seberani teman-temanku yang bisa titip salam atau terang-terangan mengatakan suka pada cowok yang mereka suka. Jadilah aku memendam perasaanku. Mungkin ini masih cinta monyet, yang akan memudar seiring berjalannya waktu.
Dan suatu saat kelak, aku akan benar-benar jatuh cinta di tingkat yang lebih serius dengan pria lain. Nyatanya perkiraanku salah. Walaupun aku sempat berpacaran dengan pria lain (sebut saja namanya axel), aku tetap meletakkan kenangan akan julian dalam hatiku. Singkat cerita, saat aku bertemu lagi dengan julian. Takdir tersebut membawaku pada rahasia yang terpendam. Hatiku kembali berdetak, kembali merasakan indahnya jatuh cinta hanya dengan menatap kedua matanya. Perasaan yang tidak pernah aku rasakan dengan axel. Sayangnya, takdir yang mempertemukan kami harus berakhir.
Detik demi detik berlalu, aku mendengarkan pengakuan ibu julian bahwa putranya ternyata memendam rahasia. Ternyata selama ini julian melakukan hal yang sama denganku, diam-diam merahasiakan perasaannya. "Waktu itu julian pernah bilang, sekarang adein sudah punya pacar, mungkin harus menunggu nak adien putus dulu, baru dia berani jujur," lanjut ibu julian dengan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Aku tidak bisa menahan air mataku, aku menangis. Aku menangis hingga dadaku terasa ingin meledak. Aku menyesal, sangat menyesal.



0 komentar:
Posting Komentar