Keterbatasan kemampuan fisik bukan berarti tak dapat berprestasi. Banyak anak – anak yang tergolong anak berkebutuhan khusus ternyata
mempunyai segudang prestasi ataupun keahlian.
Banyak impian yang ingin kami raih bersama mereka, meski dengan keterbatasan dana dan sarana. Tapi kami tak menyerah, bukan pandangan sebelah mata, apalagi melecehkan, karena mereka tidak
akan membebani siapa pun. Mereka juga mampu berkarya, bahkan berprestasi
laiknya mereka yang terlahir normal. Sungguh, apresiasi Anda semua
membuat mereka mandiri, suatu hari nanti.
Atlet-atlet tunanerta yang berprestasi
1. Anthony Lawrence Clarke
Atlit
judo yang lahir pada 1961 di Kota Adelaide, Australia ini sudah 2 kali
juara Kejuaraan World Blind pada tahun 1990 di kelas 78 Kg dan 1998 di
kelas 90 Kg, serta menyabet 2 medali emas di Paralympic Games 1996
cabang Judo di Atlanta, Amerika Serikat.
Ia
mengalami kebutaan pada usia 17 tahun akibat kecelakaan saat
mengendarai mobil. Namun berkat dukungan dari dokter dan suster rumah
sakit ia berhasil bangkit. Setelah ia berhasil menguasai huruf Braile
yang dipelajarinya saat di panti rehabilitasi, ia pun mulai berlatih
Judo. Atas prestasinya yang mengarumkan nama negaranya, Pria yang
ditemani anjing penjaga yang bernama Marcus saat mendaki pegunungan di Selandia Baru dan Australia ini, mendapatkan penghargaan Australian Sports Medal pada 2000. Sekarang selain menjadi pelatih Judo, ia juga menjadi tokoh inpirasional dan motivator.
2. Chris Holmes
Chris
Holmes mengalami kebutaan saat berumur 14 tahun karena penyakit gen
bawaan. Saat remaja ia bergabung di salah satu klub renang Birmingham.
Ia berkomitmen untuk mengikuti latihan yang sama dengan atlit lain yang
ingin masuk olimpiade. Kerja kerasnya berbuah 9 emas, 5 perak dan 1
medali perunggu di Paralympic Games dalam kurun 1988-2000.
Pria yang menyukai blind photography
ini, sempat menuntaskan kuliah jurusan politik di Cambrige dan menjadi
aktivis Paralympic. Kerajaan Inggris pun menghadiahinya gelar MBE
(Member of the Order British Empire pada 1992. Terakhir Chris Holmes
terpilih sebagai Director of Paralympic Integration pada helatan Olympics dan Paralympics di London 2012.
3. Henry Wanyoike
Sejak
kecil Henry Wanyoike sudah bergabung dengan kelompok atlet yang
dipersiapkan oleh negara yang terkenal ,melahirkan atlit lari tercepat,
Kenya. Namun pada usia 21 tahun ia mengalami kebutaan akibat terserang
stroke pada saat tidur. "Ketika tidur saya dalam keadaaan normal, namun
pada saat saya bangun, semuanya menjadi gelap." Jelasnya. Ibunya yang
sigap, langsung membawanya ke Klinik Mata Kikuyu, Klinik terbaik di
Afrika Timur. Hasilnya, ia "hanya" kehilanagn 95% penglihatannya.
Mentalnya jatuh, sehingga ia harus masuk ke pusat rehabilitasi. Disana
ia belajar merajut, dan menemukan kembali semangat hidupnya. Wanyoike
berjanji akan membatu para tuna netra lainnya untuk menemukan semangat
hidup seperti dirinya.
Pada
Paralympic tahun 2000 yang berlangsung di Sidney, Australia, ia
berhasil memenangkan medali emas dan mencatatkan rekor lari tercepat
cabang lari marathon. Selama lima tahun terakhir Henry Wanyoike telah
memenangkan medali emas dan perak cabang lari marathon 10 Km road race,
10.000 meter, 5.000 meter dan 1.500 meter. Dan catatan wakti 2 jam 31
menit 31 detik menjadi rekor yang belum terpecahkan oleh pelari buta
lainnya.
4. Marla Runyan
Marla
Runyan lahir pada tahun 1969 di California, Amerika serikat. Atlit lari
ini kehilangan matanya karena penyakit Stargardt atau degenerasi mata.
Semangatnya bangkit justru ketika dokter berkata bahwa impiannya akan
gugur. Marla berhasil membuktikan tekadnya dengan meraih 5 medali emas
dan 1 medali perak dari cabang lari di Paralympic Games.
Di
masa pensiun ia menjadi motivator profesional dan mendorong orang-orang
yang berkebutuhan khusus untuk tetap meraih impiannya.
5. Trischa Zorn
Dari para atlet tuna netra di atas, mungkin Trischa Zorn-lah yang
paling banyak meraih kesuksesan. Lahir pada 1 Juni 1964 di Califonia,
Amerika Serikat, ia sudah kehilangan penglihatanya. Namun kekurangan
fisik bukan berarti membuat mentalnya jatuh, hobinya berenang
menjadikannya sebagai salah satu atlet yang berlaga di Paralympic Games.
Tak tanggung-tanggung, ia berhasil merai 41 medali emas, 9 perak dan 5
perung selama ia berkiprah dari tahun 1980 hingga 2004 dari beberapa
cabang renang. Atas keberhasilannya itu, Namanya tercatat dalam
International Paralympian Hall of Fame.
Sumber:wordpress.com,uniknya.com
0 komentar:
Posting Komentar