
Sebelum kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia dari dataran tinggi
Yu-nan di Tiongkok Selatan ke kepulauan Nusantara; kepulauan ini sudah
ada yang menempati lebih dulu. Kemungkinan besar dari golongan bangsa
Papua Melane-soide yang berkebudayaan Epi Palaeolithis (Mesolithis).
Ketika nenek moyang Indonesia yang pertama tiba dan menetap di sini
yaitu bangsa Proto Melayu (2000-1500 SM) terjadilah asimilasi dengan
penduduk “asli” tersebut. Kedatangan bangsa Proto Melayu yang
berkebudayaan Neolithis disusul oleh kedatangan bangsa Deutro Melayu
yang berkebudayaan logam (perunggu-besi) pada kurang lebih tahun 500-300
SM. Kedatangan imigran-imigran dari daratan Asia Tenggara itu
meningkatkan kuantitas dan kualitas kebudayaan di Nusantara.
Kehidupan
pada jaman pra-aksara sangat dipengaruhi oleh kepercayaan orang
terhadap adanya roh dan kekuatan gaib ( baik yang ada pada manusia,
binatang, tanaman maupun benda lainnya). Seorang pemimpin atau kepala
suku yang meninggal, rohnya dipercaya masih dapat memberikan bantuan
atau pertolongan kepada warganya. Pendirian menhir (tiang batu)
merupakan wujud penghormatan kepadanya. Kepercayaan dan pemujaan
terhadap roh leluhur serta kepercayaan terhadap adanya suatu kehidupan
sesudah mati menimbulkan suatu tradisi atau budaya yang lazim disebut
budaya megalith (R.Soekmono:1988;78). Akar kebudayaan ini
tumbuh pada jaman Neolitihkum (masa Bercocok Tanam) dan berkembang pada
jaman Perunggu-Besi (masa Perundagian). Segala kegiatan yang dilakukan
orang pada jaman itu tidak lepas dari kepercayaan tersebut.
Pada
jaman Neolithikum orang tidak lagi hidup mengembara. Mereka hidup
menetap karena telah mengenal cara bercocok tanam dan juga beternak
beberapa jenis binatang. Perubahan cara hidup ini oleh para ahli disebut
revolusi dalam kebudayaan manusia. Perubahan yang mendasar itu membawa
akibat yang besar terhadap kemajuan kehidupan manusia. Manusia mulai
terikat pada tanahnya tempat ia tinggal. Terbentuklah
komunitas-komunitas yang menempati daerah tertentu yang sekarang dikenal
sebagai desa. Sebagai persekutuan hidup maka warga desa dalam
mengerjakan segala sesuatu selalu bersama-sama, misalnya dalam menggarap
tanah pertanian, ladang, sawah), mendirikan rumah, membuat perahu,
menjaga dan memelihara desa, membuka hutan dan sebagainya, yang sekarang
dikenal dengan istilah bekerja secara gotong-royong atau berholopis
kuntul baris.
Masyarakat desa waktu itu belum mengenal perbedaan kelas. Pemimpin dipilih oleh warga desa atas dasar primus inter pares yakni yang dapat menunjuk-kan
keunggulannya di antara sesama warga desa. Hubungan antara pemimpin
desa dengan warganya berdasarkan kekeluargaan. Pemimpin desa disebut rama ni dusun (bapak pemimpin desa), sedangkan warga desa disebut anak wanua (wanua=dusun) atau anak thani. Jadi hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin seperti hubungan antara ayah dengan anak-anaknya.
Hidup
bersama memerlukan aturan-aturan yang harus ditaati bersama agar
terwujud kehidupan yang harmonis dan teratur. Dengan demikian desa juga
merupakan persekutuan hukum. Aturan kehidupan itulah yang kini dikenal
sebagai hukum adat. Siapa pun yang melanggar akan terkena sanksi.
Pada
jaman Neolithikum kemungkinan besar orang sudah mengenal seni baik seni
lukis, seni pahat maupun seni tari. Mereka juga sudah dapat membuat
barang-barang dari tanah liat (gerabah) dan membuat pakaian dari kulit
kayu. Kemungkinan besar juga mereka sudah memiliki keterampilan membuat
perahu bercadik (bersa-yap). Menurut Hornell, seorang sarjana yang
menyelidiki jenis-jenis perahu di Nusantara dan negara-negara di
sekitarnya telah mengambil kesimpulan bahwa perahu bercadik adalah
perahu yang menjadi milik khusus bangsa Indonesia (R. Soekmono; 80).
Pada
jaman Perunggu-Besi (Perundagian) orang telah dapat melebur bijih logam
dan kemudian membuatnya menjadi berbagai peralatan hidup. Orang yang
ahli membuat barang-barang dari logam sangat dihormati. Mereka ini
disebut empu atau pandai besi ( bahasa Jawa: pandewesi). Beberapa
monumen megalith seperti yang dijumpai di Pasemah (Sumatra Selatan)
menunjukkan bermacam-macam benda logam seperti genderang perang (nekara
perunggu), helm (pelindung kepala), pedang, golok, perisai, kelat bahu
dan sebagainya. Kecakapan nenek moyang Indonesia pada waktu itu tidak
hanya terbatas pada membuat barang-barang dari logam melainkan seperti
yang dikemukakan oleh J.L.A. Brandes bahwa kebudayaan Indonesia sebelum
dipengaruhi oleh kebudayaan India sudah cukup tinggi. Ada sepuluh unsur
kebudayaan Indonesia asli menurut J.L.A. Brandes, yakni : wayang,
gamelan, tembang (metrum), membatik, mengerjakan logam, sistem mata
uang, pelayaran, astronomi, pengairan sawah (irigasi) dan pemerintahan yang teratur (Ayatrohaedi: 1986; 224).
Kebudayaan
Indonesia yang meningkat dari jaman Neolithikum ke jaman Perunggu-Besi
sudah barang tentu karena pendukungnya melakukan kegiatan pendidikan.
Pada jaman itu huruf belum dikenal orang. Oleh karena itu kemungkin-an
besar orang mengajar dan belajar secara lisan dan dengan cara meniru
terlebih dulu. Dengan demikian kemampuan mengingat dan menghafal sangat
diutamakan. Mantera-mantera atau do’a pada jaman pra-aksara sangat
penting karena setiap akan melakukan kegiatan baik perseorangan maupun
bersama-sama selalu disertai dengan upacara berupa perilaku, do’a dan
sesaji tertentu tergantung jenis kegiatan- nya.
Pendidikan
mula-mula dilakukan dalam keluarga. Anak laki-laki memperoleh
pengetahuan dan ketrampilan serta tata perilaku dari ayahnya, sebaliknya
anak perempuan dididik oleh ibunya. Pendidikan dalam keluarga
berlangsung dengan cara pembiasaan. Selanjutnya seorang anak mungkin
mendapat kesempatan untuk belajar pada orang lain, kepada seorang guru
atau empu. Untuk itu ia harus tinggal beberapa waktu di rumah gurunya
dan mentaati semua perintah dan ajaran sang guru.
Mengingat ikatan antar warga masyarakat masih sangat erat dan kuat maka
pendidikan yang dilakukan pada waktu itu bertujuan membentuk warga yang
pandai dan terampil dalam pengetahuan tertentu (baik yang lahiriah
maupun yang bati-niah), warga yang menghormati dan taat pada hukum
(adat-istiadat), warga yang menghormati para leluhur, orang tua dan
guru, serta warga yang memiliki semangat gotong-royong ( I. Djumhur dan
H.Danasuparta: 1976; 105).
Sumber : http://www.infosejarah.net/sejarah-indonesia/prasejarah/sejarah-pendidikan-di-indonesia-masa-pra-aksara.html
Sumber : http://www.infosejarah.net/sejarah-indonesia/prasejarah/sejarah-pendidikan-di-indonesia-masa-pra-aksara.html



0 komentar:
Posting Komentar