Kamis, 13 Februari 2014

Sejarah Pendidikan di Indonesia Masa Pra-Aksara

http://www.tarpits.org/sites/all/themes/tarpits/images/timeline/09-prehistory-a.jpg

 Sebelum kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia dari dataran tinggi Yu-nan di Tiongkok Selatan ke kepulauan Nusantara; kepulauan ini sudah ada yang menempati lebih dulu. Kemungkinan besar dari golongan bangsa Papua Melane-soide yang berkebudayaan Epi Palaeolithis (Mesolithis). Ketika nenek moyang Indonesia yang pertama tiba dan menetap di sini yaitu bangsa Proto Melayu (2000-1500 SM) terjadilah asimilasi dengan penduduk “asli” tersebut. Kedatangan bangsa Proto Melayu yang berkebudayaan Neolithis disusul oleh kedatangan bangsa Deutro Melayu yang berkebudayaan logam (perunggu-besi) pada kurang lebih tahun 500-300 SM. Kedatangan imigran-imigran dari daratan Asia Tenggara itu meningkatkan kuantitas dan kualitas kebudayaan di Nusantara.

 Kehidupan pada jaman pra-aksara sangat dipengaruhi oleh kepercayaan orang terhadap adanya roh dan kekuatan gaib (  baik yang ada pada manusia, binatang, tanaman maupun benda lainnya). Seorang pemimpin atau kepala suku yang meninggal, rohnya dipercaya masih dapat memberikan bantuan atau pertolongan kepada warganya. Pendirian menhir (tiang batu) merupakan wujud penghormatan kepadanya. Kepercayaan dan pemujaan terhadap roh leluhur serta kepercayaan terhadap adanya suatu kehidupan sesudah mati menimbulkan suatu tradisi atau budaya yang lazim disebut budaya megalith (R.Soekmono:1988;78). Akar kebudayaan ini tumbuh pada jaman Neolitihkum (masa Bercocok Tanam) dan berkembang pada jaman Perunggu-Besi (masa Perundagian). Segala kegiatan yang dilakukan orang pada jaman itu tidak lepas dari kepercayaan tersebut.

 Pada jaman Neolithikum orang tidak lagi hidup mengembara. Mereka hidup menetap karena telah mengenal cara bercocok tanam dan juga beternak beberapa jenis binatang. Perubahan cara hidup ini oleh para ahli disebut revolusi dalam kebudayaan manusia. Perubahan yang mendasar itu membawa akibat yang besar terhadap kemajuan kehidupan manusia. Manusia mulai terikat pada tanahnya tempat ia tinggal. Terbentuklah komunitas-komunitas yang menempati daerah tertentu yang sekarang dikenal sebagai desa. Sebagai persekutuan hidup maka warga desa dalam mengerjakan segala sesuatu selalu bersama-sama, misalnya dalam menggarap tanah pertanian, ladang, sawah), mendirikan rumah, membuat perahu, menjaga dan memelihara desa, membuka hutan dan sebagainya, yang sekarang dikenal dengan istilah bekerja secara gotong-royong atau berholopis kuntul baris.

 Masyarakat desa waktu itu belum mengenal perbedaan kelas. Pemimpin dipilih oleh warga desa atas dasar  primus inter pares yakni yang dapat menunjuk-kan keunggulannya di antara sesama warga desa. Hubungan antara pemimpin desa dengan warganya berdasarkan kekeluargaan. Pemimpin desa disebut rama ni dusun (bapak pemimpin desa), sedangkan warga desa disebut  anak wanua (wanua=dusun) atau anak thani. Jadi hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin seperti hubungan antara ayah dengan anak-anaknya.
Hidup bersama memerlukan aturan-aturan yang harus ditaati bersama agar terwujud kehidupan yang harmonis dan teratur. Dengan demikian desa juga merupakan persekutuan hukum. Aturan kehidupan itulah yang kini dikenal sebagai hukum adat. Siapa pun yang melanggar akan terkena sanksi.
Pada jaman Neolithikum kemungkinan besar orang sudah mengenal seni baik seni lukis, seni pahat maupun seni tari. Mereka juga sudah dapat membuat barang-barang dari tanah liat (gerabah) dan membuat pakaian dari kulit kayu. Kemungkinan besar juga mereka sudah memiliki keterampilan membuat perahu bercadik (bersa-yap). Menurut Hornell, seorang sarjana yang menyelidiki jenis-jenis perahu di Nusantara dan negara-negara di sekitarnya telah mengambil kesimpulan bahwa perahu bercadik adalah perahu yang menjadi milik khusus bangsa Indonesia (R. Soekmono; 80).

 Pada jaman Perunggu-Besi (Perundagian) orang telah dapat melebur bijih logam dan kemudian membuatnya menjadi berbagai peralatan hidup. Orang yang ahli membuat barang-barang dari logam sangat dihormati. Mereka ini disebut empu atau pandai besi ( bahasa Jawa: pandewesi). Beberapa monumen megalith seperti yang dijumpai di Pasemah (Sumatra Selatan) menunjukkan bermacam-macam benda logam seperti genderang perang (nekara perunggu), helm (pelindung kepala), pedang, golok, perisai, kelat bahu dan sebagainya. Kecakapan nenek moyang Indonesia pada waktu itu tidak hanya terbatas pada membuat barang-barang dari logam melainkan seperti yang dikemukakan oleh J.L.A. Brandes bahwa kebudayaan Indonesia sebelum dipengaruhi oleh kebudayaan India sudah cukup tinggi. Ada sepuluh unsur kebudayaan Indonesia asli menurut J.L.A. Brandes, yakni : wayang, gamelan, tembang (metrum), membatik, mengerjakan logam, sistem mata uang, pelayaran, astronomi, pengairan sawah (irigasi) dan pemerintahan yang teratur (Ayatrohaedi: 1986; 224).

 Kebudayaan Indonesia yang meningkat dari jaman Neolithikum ke jaman Perunggu-Besi sudah barang tentu karena pendukungnya melakukan kegiatan pendidikan.  Pada jaman itu huruf belum dikenal orang. Oleh karena itu kemungkin-an besar orang mengajar dan belajar secara lisan dan dengan cara meniru terlebih dulu. Dengan demikian kemampuan mengingat dan menghafal sangat diutamakan. Mantera-mantera atau do’a pada jaman pra-aksara sangat penting karena setiap akan melakukan kegiatan baik perseorangan maupun bersama-sama selalu disertai dengan upacara berupa perilaku, do’a dan sesaji tertentu tergantung jenis kegiatan- nya.

 Pendidikan mula-mula dilakukan dalam keluarga. Anak laki-laki memperoleh pengetahuan dan ketrampilan serta tata perilaku dari ayahnya, sebaliknya anak perempuan dididik oleh ibunya. Pendidikan dalam keluarga berlangsung dengan cara pembiasaan. Selanjutnya seorang anak mungkin mendapat kesempatan untuk belajar pada orang lain, kepada seorang guru atau empu. Untuk itu ia harus tinggal beberapa waktu di rumah gurunya dan mentaati semua perintah dan ajaran sang guru.

 Mengingat ikatan antar warga masyarakat masih sangat erat dan kuat maka pendidikan yang dilakukan pada waktu itu bertujuan membentuk warga yang pandai dan terampil dalam pengetahuan tertentu (baik yang lahiriah maupun yang bati-niah), warga yang menghormati dan taat pada hukum (adat-istiadat), warga yang menghormati para leluhur, orang tua dan guru, serta warga yang memiliki semangat gotong-royong ( I. Djumhur dan H.Danasuparta: 1976; 105). 

Sumber : http://www.infosejarah.net/sejarah-indonesia/prasejarah/sejarah-pendidikan-di-indonesia-masa-pra-aksara.html

0 komentar:

Posting Komentar



Diagonal Select - Hello Kitty 2